Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
TERNYATA bukan hanya Srikandi dan Gatotkaca yang beda versi Mahabharata dengan versi pewayangan Jawa, tetapi Indrajit juga beda versi Ramayana dengan versi pewayangan Jawa.
Di dalam versi Ramayana gagasan Walmiki yang bahkan bertolak-belakang dengan Rahwanayana versi Srilanka, Indrajit adalah putra Rahwana Raja Alengka kini Srilanka.
Sewaktu lahir, Indrajit diberi nama Megananda karena tangisan pertamanya diiringi suara petir menggelegar, pertanda kelak ia akan tumbuh menjadi seorang kesatria besar. Ketika dewasa, Megananda pernah membantu ayahnya bertempur melawan para dewa kahyangan.
Dalam pertempuran itu, Megananda berhasil menangkap dan menawan Indra, raja para dewa. Dewa Brahma muncul melerai. Indra pun dibebaskan oleh Megananda. Sebagai gantinya ia mendapatkan pusaka ampuh dari Brahma bernama Brahmasta. Brahma juga memberikan julukan Indrajit kepada Megananda yang bermakna "Penakluk Indra".
Kemudian perang di Alengka berkobar akibat ulah Rahwana menculik Sinta istri Rama. Rama didukung laskar Wanara menyerbu istana Alengka. Satu per satu panglima Alengka terbunuh. Indrajit tampil sebagai andalan ayahnya.
Indrajit mengerahkan pusaka Nagapasa yang mampu mengeluarkan ribuan ular berbisa. Rama dan Laksmana roboh tak berdaya dililit ular-ular tersebut. Sewaktu para Wanara berduka karena kehilangan pemimpin mereka, tiba-tiba muncul Garuda mengusir ular-ular yang melilit kakak-beradik tersebut. Kebangkitan Rama dan Laksmana membuat pertempuran berlanjut. panglima-panglima Alengka semakin banyak yang tewas.
Akhirnya hanya tinggal Indrajit melepaskan pusaka Brahmasta mengenai Laksmana sehingga roboh sekarat. Laksmana bangkit kembali setelah diobati Rama menggunakan tanaman jamu yang dibawa Hanuman. Pasukan Wanara kembali bergerak menyerbu istana Alengka. Indrajit menciptakan Sita palsu untuk dibunuhnya di hadapan para Wanara.
Melihat istri Rama tewas, para Wanara kehilangan semangat bertempur. Mereka menganggap tujuan peperangan sudah tidak ada lagi. Wibisana menyadari kalau Indrajit sedang melakukan semedi untuk mendapatkan kekuatan. Ia meminta Laksmana untuk menggagalkan semedi Indrajit sebelum mencapai kesempurnaan. Laksmana disertai para prajurit Wanara mendatangi tempat Indrajit bersemedi.
Konsentrasi Indrajit terganggu sehingga semedinya dihentikan. Ia kemudian bertarung menghadapi Laksmana. Laksmana pun melepaskan panah Indrastra dengan mengucapkan doa atas nama Rama. Panah tersebut melesat memenggal kepala Indrajit.
Menurut versi pewayangan Jawa kreatifitas swasembada para dalang Jawa, Indrajit bukan putra kandung Rahwana, melainkan hasil ciptaan Wibisana. Alkisah istri Rahwana bernama Dewi Kanung sedang mengandung bayi perempuan reinkarnasi seorang bidadari bernama Widawati.
Rahwana bersumpah akan menikahi putrinya itu jika kelak lahir, karena Widawati merupakan cinta pertamanya. Ketika Kanung melahirkan, Wibisana segera menyulik bayi perempuan tersebut dan dihanyutkan ke sungai dalam sebuah peti. Bayi itu terbawa arus sampai ke Kerajaan Mantili dan ditemukan oleh raja negeri tersebut yang bernama Janaka.
Janaka memungut bayi putri Rahwana tersebut sebagai anak angkat dengan diberi nama Sinta. Sementara itu, Wibisana menciptakan bayi laki-laki dari segumpal awan yang diberi nama Indrajit. Bayi Indrajit diserahkan kepada Rahwana.
Rahwana kecewa dan berniat membunuh Indrajit. Ternyata semakin dihajar Indrajit justru semakin tumbuh gagah-perkasa. Rahwana berubah pikiran dan mengakuinya sebagai anak.
Dalam perang besar melawan bala tentara Sri Rama, Indrajit mengerahkan pusaka Nagapasa. Muncul ribuan ular menyerang pasukan Wanara. Namun semua itu dapat ditaklukkan oleh burung Garuda ciptaan Laksmana. Indrajit kemudian mengerahkan ilmu Sirep Begananda, membuat Rama, Laksmana, dan seluruh pengikut mereka roboh tak berdaya. Mereka tertidur bagaikan orang mati.
Hanya Wibisana yang tetap terjaga.
Wibisana memberitahu Indrajit mengenai asal-muasalnya. Indrajit tersadar bahwa bersalah telah membela Rahwana. Ia pun meminta agar Wibisana mengembalikan dirinya ke asal-muasalnya. Indrajit kemudian mengheningkan cipta, sedangkan Wibisana melepaskan pusaka Dipasanjata ke arahnya. Tubuh Indrajit pun musnah seketika, dan kembali menjadi awan putih di angkasa.
Menurut pendapat saya kisah Indrajit versi pewayangan relatif lebih indah ketimbang versi Ramayana gubahan Walmiki. []