MEDAN | GARDA.ID
Suasana Minggu malam (8/3/2026) di sebuah kedai kopi di Jalan Mesjid Aljihad No.18 B, Medan, terasa hangat. Aroma kopi yang baru diseduh menyebar di ruangan, menemani obrolan santai para penikmat kopi yang duduk berkumpul.
Di balik meja seduh, barista Tona terlihat santai meracik kopi. Bubuk kopi ditakar, lalu air panas dituangkan perlahan. Uap tipis naik dari cangkir, membawa aroma kopi yang khas."Gak ada kopi, gak ada cerita," ujar Tona sambil menutup seduhan kopinya.
Menurutnya, kopi yang disajikan berasal dari arabika dataran tinggi Gayo Highlands. Kopi ini dikenal memiliki karakter rasa yang cukup kuat."Rasanya dominan asam, pahit, tapi ada manisnya juga," jelasnya.Perpaduan rasa itu membuat kopi terasa seimbang di lidah. Asamnya terasa segar di awal tegukan, lalu pahitnya muncul perlahan sebelum meninggalkan sensasi manis di akhir.
Baca Juga: KBDIY Medan Sumut Berbagi Takjil Ramadan 1447 H, Lalin Sempat Padat di Jalan Kapten Muslim Beberapa penggiat kopi yang sering nongkrong di kedai itu juga mengakui cita rasa kopi yang disajikan. Junaidi, Heri, Doni, dan Fadli kompak mengatakan rasa kopi di tempat tersebut memang terasa kuat dan khas.
"Memang terasa banget kopinya," ucap mereka.Sementara itu, CEO Sumut24, Anto Genk, yang akrab disapa Anto Genk, mengatakan kedai kopi seperti ini memang punya daya tarik tersendiri.Menurutnya, kedai kopi bukan sekadar tempat minum kopi, tetapi juga ruang berkumpul yang hangat untuk berbagi cerita.
"Kedai kopi memang selalu hangat dengan cerita. Tempat seperti ini juga jadi salah satu favorit tempat nongkrong," ujarnya.Di kota seperti Medan, budaya ngopi memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Secangkir kopi sering kali menjadi penghubung pertemuan, diskusi, hingga persahabatan.
Di kedai kecil di Jalan Mesjid Aljihad itu, aroma kopi Gayo dan cerita yang mengalir membuat malam terasa lebih hidup. Karena bagi para pecinta kopi, satu hal selalu sama: ngopi bukan sekadar minum, tapi menikmati rasa dan kebersamaan. ☕RD