Ketua Umum JMSI: Inisiatif Peradaban Global Sejalan dengan Prinsip Bhinneka Tunggal Ika

Garda.id - Sabtu, 19 Juli 2025 15:50 WIB
Ketua Umum JMSI: Inisiatif Peradaban Global Sejalan dengan Prinsip Bhinneka Tunggal Ika

 

TEGUH SANTOSA.

Ganzhou | Garda.id

Pada bulan Maret 2023, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan Presiden Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Xi Jinping memperkenalkan pendekatan diplomasi untuk mempromosikan penghormatan pada keragaman peradaban, nilai-nilai kemanusiaan, dan pertukaran kebudayaan di arena internasional. 

Pendekatan itu diberi nama Inisiatif Peradaban Global, yang menjadi satu dari tiga pilar “diplomasi baru” Tiongkok bersama Inisiatif Pembangunan Global dan Inisiatif Keamanan Global yang dijalankan seiring dengan Inisiatif Sabuk dan Jalan atau Belt and Road Initiative (BRI).

Inisiatif Peradaban Global menjadi salah satu topik yang dibahas dalam pertemuan wartawan dunia “Belt and Road Journalists Forum” di Ganzhou, Jiangxi, Tiongkok, 18 Juli 2025.

Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Teguh Santosa ketika menanggapi Inisiatif Peradaban Global itu mengatakan hal ini sejalan dengan nilai-nilai yang dianut bangsa Indonesia.

“Semboyan nasional Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika yang berasal dari bahasa Sansekerta dan berarti Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu. Indonesia dibangun di atas sejarah ratusan kerajaan kuno di nusantara dan dipersatukan oleh pengalaman hidup di bawah penjajahan bangsa asing,” ujar Teguh dalam sesi berjudul “Inovasi Narasi Lintas Budaya dan Kewajiban Media di bawah Inisiatif Peradaban Global”. Sesi ini dipandu Prof. Zheng Chanzhong dengan narasumber utama Prof. Zhang Zebing.

Melanjutkan penjelasannya, Teguh menambahkan, faktor utama yang memperkuat dan menjadi tulang punggung nasionalisme Indonesia adalah kesediaan menerima budaya dan peradaban yang telah ada sebelumnya, dan menjadikannya sebagai budaya Indonesia yang baru.

"Berbicara tentang subkultur Tionghoa dalam budaya Indonesia, di kota Medan, tempat saya dilahirkan dan dibesarkan, kami memiliki komunitas Tionghoa yang besar dan signifikan," ujar Teguh.

Terlepas dari dialog peradaban yang terus terjadi, Teguh mengatakan, saat ini ada satu hal yang membuatnya khawatir. Yaitu penggunaan kacamata tempur atau combative lens dalam praktik jurnalistik.

Kacamata tempur adalah keadaan di mana wartawan dan media memandang perbedaan antarbudaya dan peradaban juga antarbangsa dan negara harus diakhiri dengan kemenangan satu pihak dan kekalahan pihak lainnya.

Situasi ini, sebutnya, diperparah oleh kenyataan bahwa aktor media sosial yang tidak bertanggung jawab telah mengambil alih peran jurnalisme berkualitas di banyak negara.

Teguh mengatakan, ini adalah tantangan yang harus dihadapi dengan meningkatkan kapasitas dan kredibilitas karya pers.

Teguh juga mengajak seluruh peserta konferensi memanfaatkan forum seperti Belt and Journalists Network untuk memupuk solidaritas dan harmoni, serta saling menghormati berbagai budaya dan peradaban yang ada. 

Rel

Editor
: Garda.id
Sumber
:

Berita Terkait

Dunia

Menanam Pangan, Memulihkan Martabat: Ujian Nyata Asta Cita di Kemenimipas

Dunia

Barapaksi Desak Kejatisu Bongkar Jaringan Mafia Titik SPPG di Sumut

Dunia

DSIL Kirim Atlet Terbaik Deliserdang ke Pariaman Open

Dunia

Milad ke-60 Bupati Langkat Syah Afandin, Berlangsung Khidmat dan Penuh Kebersamaan, Ondim Ucapkan Rasa Syukur

Dunia

Di DPRD Medan, Rico Waas Paparkan Strategi Efisiensi APBD 2025: Tanpa Utang, Fokus Banjir dan Digitalisasi PAD

Dunia

Menuju Indonesia Emas 2045, Adhie Massardi Terbitkan “Peradaban Not Just Civilization”